Langit mulai gelap tatkala mentari telah kehilangan garis lengkung sinarnya dan kembali keperaduannya. Jangkrik mulai bernyanyi merdu menandakan senja telah berakhir dan malam pun siap menyapa setiap insan di muka bumi. Sunyi senyap, hanya suara adzan magrib yang mengaung ke seantero desa. Desa yang di diami sebuah keluarga kecil.
Namanya Nobunaga, orang-orang di desa lebih mengenalnya dengan Nobu. Walaupun panggilan itu tidak terlalu enak didengar, Nobu harus menerimanya dengan lapang dada. Kadang Dia menggerutu, “aku akan lebih senang kalau dipanggil Naga, kan agak sedikit keren lah daripada Nobu….”
Keluarga Nobu merupakan keluarga yang kecil. Hanya beranggotakan Ayah, Ibu, Nobu dan Adik laki-lakinya. Adiknya bernama Yamanaka, namun Dia lebih sering dipanggil Ken. Nobu sedikit bingung bagaimana bisa tercetus panggilan “Ken” itu, padahal nama adiknya kan Yamanaka…. Nobu seringkali iri pada Ken, mulai dari nama saja nama adiknya itu jauh lebih keren daripada namanya, belum lagi prestasi-prestasi yang telah dicapai oleh Ken yang sudah bejibun dan menggunung, mulai dari juara karya tulis ilmiah sampai juara membaca puisi, tak heran kedua orangtua mereka lebih memperhatikan Ken daripada Nobu. Ken juga menjadi pujaan setiap siswi putri di sekolah. Wajah Ken memang tak kalah menawan dibandingkan dengan aktor-aktor korea yang sedang Booming akhir-akhir ini. Penampilannya yang rapi dan pembawaannya yang berwibawa ditambah lagi senyumnya yang teman-temannya bilang lebih manis dari senyum perempuan. Sangat berbeda dengan Nobu. Wajahnya yang tidak jelek namun juga tidak tampan, penampilan yang urak-urakan, ceroboh dan cengengesan menjadi ciri khas yang tidak semua orang miliki. Tentu saja Nobu tidak begitu bangga dengan ciri khas yang menjadikannya model yang tidak patut ditiru oleh anak-anak maupun orang yang sudah dewasa…
Sekarang Nogu sudah berumur 16 tahun. Ya, bisa dibilang ABG alias Anak Baru Gede. Ciri yang mencolok dari seorang ABG tentu saja dunia percintaan. Nobu telah mengagumi seorang gadis selama 1 tahun lebih, Nobu hanya melihat, memperhatikan dan mengikuti setiap gerak-gerik nya tanpa bisa menyapa ataupun berbincang. Dia masih belum mempunyai keberanian untuk menyatakan rasaku ini untuknya. Gadis itu bernama Ino, teman sekelasnya.
Ino.. Ino.. Ino.. nama itu terus saja terngiang-ngiang dipikiran Nobu. Memecah konsentrasi tak terkecuali saat sedang belajar. Saat itu sedang pelajaran Indonesia. Bu Tami yang terkenal killer sedang menerangkan bagaiman cara membuat cerpen. “Cerpen yang baik tentu saja mempunyai unsur intrinsic yang terkandung didalamnya, siapa yang tahu apakah unsur intrinsik itu?” Tanya Bu Tami. Tak ada yang menjawab, Nobu tetap tertegun dengan lamunannya yang terus dihantui oleh nama Ino. “Nobu, Coba kamu jawab!!” seru Bu Tami. Nobu masih diam dalam lamunan, tiba-tiba teman sebangkunya Romi menepuk bahunya. Nobu terkejut dan tanpa sadar terucap dari mulutnya “Ino…!!”. Semua mata tertuju padanya. Mukanya memerah bagai udang yang baru direbus, begitu pula muka Ino. Bu Tami langsung datang menghampirinya. Dibenaknya telah tergambar bagaimana malapetaka yang akan Dia dapat pagi itu, ini bagaikan mimpi buruk di siang bolong, Nobu dijemur di tengah lapangan upacara, kebetulan siang itu Matahari dan Awan mendung sedang tidak bersahabat dengannya. Dia hanya bisa pasrah dan berkata “yaaah… ini Cuma cobaan.. Keep Spirit aja lah..”
Akhir semester genap berlalu. Tibalah saat penerimaan siswa baru. Ken yang akan tamat SMP sudah mengambil ancang-ancang untuk masuk ke SMA. Ayah dan Ibu menginginkan Ken bersekolah ditempat yang sama dengan Nobu. Mendengar itu semua Dia sedikit dongkol mengingat kenangan masa lalu saat dia bersekolah di SMP yang sama dengan Ken. Baik guru maupun teman-teman seringkali membanding-bandingkan antara Dia dan Ken. Tentu saja pihak yang paling dirugikan adalah Nobu… tapi apa mau di kata, dewi Fortuna memang tidak sedang berpihak pada Nobu. Ken masuk di SMA Unggulan, SMA tempat Nobu menimba ilmu.
Awal semester ganjil telah tiba, itu tandanya sudah 2 tahun Nobu memendam rasa cinta yang tulus kepada gadis pujaan hatiku, Ino. Nobu sudah pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa Dia akan menyatakan rasaku ini pada ino tepat pada hari pertama masuk sekolah. Romi sahabat karibku tahu semua tentangnya. Tak ada yang bisa Dia sembunyikan darinya termasuk tentang Ino. Dia begitu bingung bagaimana caranya menyatakan rasa ini padan Ino. Romi membantu Nobu mempersiapkan semuanya. Mulai dari memilihkan baju, membeli bunga mawar putih, coklat termasuk memilihkan parfum yang cocok untuknya malam nanti. “Ya.. akan ku utarakan semuanya malam nanti.” kataNobu dalam hati.
Belum bel pulang berbunyi, Nobu sudah membereskan perkakas yang ada dimeja dan mengambil ancang-ancang lari maju yang sudah diajarkan di Paskibra…. Bel pulang berbunyi, Nobu lari dengan langkah seribu. Sesampainya dirumah, Nobu langsung mendatangi tempat mensetrika pakaian. disetrika pakaian yang telah dipilihkan oleh Romi. digantungkan dibelakang pintu kamarnya. Sejenak Dia merenung “sebentar lagi apa yang aku pendam selama ini akan tersampaikan. Setelah ini aku tidak hanya bisa memperhatikan Ino saja namun akan lebih dari itu” bisiknya dalam hati. Segera Dia mandi dengan beragam kosmetik yang ada di kamar mandi. Bahan-bahan kosmetik itu tentu saja bukan milikknya. Diamemakai lulur yang biasa digunakan oleh ibu. “hahaha… sepertinya lulur ini bisa sedikit membantu menyukseskan Planning ku malam ini” kata Nobu dalam hati sambil sedikit cengengesan. “kak, apa yang sedang kau lakukan dikamar mandi? Sudah satu jam kak… Ken juga mau mandi tau!!!” teriak Ken dari luar kamar mandi. “kakak sedang melakukan eksperimen Kimia Ken, kakak sedang mengamati apakah campuran air dengan sabun cair bisa dikatakan sebagai buffer basa atau hidrolisis” jawabnya sambil tertawa. Adiknyaitu hanya bisa pasrah mendengar ucapannya.
Selesai mandi Nobu langsung menuju ruang makan dan makan seadanya saja. Langsung menuju kamar dan memakai pakaian yang sudah Dia setrika sendiri. Berdandan hingga satu jam lebih di depan cermin. Andai saja cermin itu bisa berbicara pasti dia akan memaki-maki Nobu. Tak lupa Dia semprotkan parfum mahal yang Dia beli walau harus meminjam uang Romi. Seketika Dia ingat sesuatu. Nobu langsung mencari handphonenya dan menelpon Romi. “Hallo Bro… mawar dan coklat sudah beres?” Tanya Nobu pada Romi. “beres boss,, All is Well” jawab Romi.
Tepat pukul 7 malam. Mobil Romi sudah terparkir di halaman rumah. Nobu segera menelpon ayah dan ibunya yan sedang berada di Singapura “Ayah, Nobu minta doa restunya yah supaya sukses malam ini… dadah …” Dia langsung mematikan telpon tanpa sempat mendengar jawaban dari kedua orangtuanya tersebut. Segera Dia hampiri adik semata wayang nya. Dia dekati adiknya dan Dia peluk seraya berkata “Ken, malam iini puncaknya.. doakan kakak sukses ya..”. mendengar ucapannya itu Ken diam dan kebingunan. Tak mengerti akan apa yang Dia katakan. Nobu pergi menghampiri Romi dan masuk kedalam mobil. Dia lambaikan tangan sambil berkata “kakak pergi dulu ya… dadah…….” tatkala mobil yang Dia naiki mulai bergerak menuju Final Destination.. ya.. Rumah Ino.
Sesampainya di perempatan jalan rumah Ino, mobil yang dikendarai oleh Romi berhenti. Jantung Nobu berdetak cepat. Tak mampu Dia sembunyikan rasa gugup, rasa haru dan rasa puas yan bercampur menjadi satu. Malam ini, malam dimana semua penantiannya selama 2 tahun akan terbayar sudah. Baik terbayar dengan penerimaan atau bahkan penolakan. Dia tak memikirkan hal itu, yang terpenting adalah Dia telah menyatakan rasaku ini untuknya. Romi pun merasaka gejolak yang ada padanya saat ini. “Nobu, Ini saat nya.. lakukan yang terbaik yang kau bisa. Aku percaya padamu teman, kau bisa..”. mendengar perkataan Romi kepercayaan diri Nobu bertambah. Dengan tidak ragu-ragu Dia buka pintu mobil dengan membawa mawar putih nan indah dan satu bar cokelat, walaupun rasa tegang tak bisa Dia hilangkan. Konsentrasinya terpusat pada satu titik yaitu rumah Ino. Tak Dia hiraukan semua yang ada disekitarnya. Tak Dia rasakan benda itu bergerak semakin cepat. Semakin cepat dan bagai tak terkendali. BG 1301 RR itumenghempas tubuh yang tadinya penuh emosi dan ketegangan itu. Tubuh itu terbujur kaku, remuk dan patah. Mawar Putih dan Cokelat yang Dia bawa terpental jauh keujung jalan. Hening malam pun pecah akibat suara suatu besi logam yang beradu dengan daging manusia. Tak bisa dihindari maut datang menjemput.
Mendengar berita kematian yang dibawa Romi, Ken hanya tertegun tak percaya. Jasad seorang kakak yang menjadi saingannya dimata orangtuanya itu telah tidak bernyawa lagi. Jasad kakak semata wayangnya itu terbujur kaku, remuk, patah dan berlumur darah. Kedua orangtua mereka segera pulang dari Singapura. Mereka masih tak percaya akan apa yang ada dihadapan mereka. Jasad seorang anak yang baru saja meminta restu lewat telpon itu sudah tak bersatu lagi dengan ruhnya. Berita kematian Nobu sudah tersebar di sekolahnya. Semua teman-teman datang takziah termasuk Ino. Romi menceritakan semua tentang Nobu kepada Ino. Ino hanya tertegun dan tak kuasa meneteskan air mata. Dari tas milik Romi, dikeluarkannya setangkai mawar putih yang sudah patah dan satu bar cokelat yang wujudnya sudah tidak sempurna lagi. Diserahkannya mawar dan cokelat itu sembari menceritakan apa yang terjadi pada kedua benda itu.
Nobu pun dimakamkan di pemakaman keluarga milik orangtuanya. Semua anggota keluarga kecilnya itu tak kuasa menahan tetesan air mata. “Ino memang bukan untukmu kakak… biarkan aku menjaganya untukmu” bisik Ken dalam hati seraya menghela nafas dan menahan air matanya. Begitu juga seorang sahabat yang selalu ada disampingnya. Romi bagai orang gila yang kehilangan semua miliknya. Ino pun tak bisa berkata apa-apa. Usai pemakaman, semua pulang kerumah masing-masing. Kini, harapan, penantian dan kesabaran Nobu tinggallah kenangan. Semua rencana yang sudah dipersiapkan secara matang harus terhancurkan oleh maut yang tak bisa dihindari kedatangannya. Kita manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan Yang Maha Esa lah yang menentukan segala sesuatunya.
This is my 1st posting .., hhaha :D


0 komentar:
Posting Komentar